PENGALAMAN NYATA MELIHAT SOSOK BEDA ALAM SEWAKTU DI ASRAMA YOGYAKARTA
Awal mula bersekolah di Yogyakarta kami diantar oleh ibu. Sodara jauh yang kebetulan juga bersekolah di Yogyakarta kami.Sementara mereka bersekolah, saya, adik, dan ibu mencari asrama yang deka dengan sekolah. Sembari berkeliling di seputaran jalan sore, kami menemukan asrama didalam gang dekat jalan besar yang dikenal dengan asrama mba A**. Setibanya diasrama yang kala itu sepi dikarenakan anak-anak diasrama lagi bekerja dan sekolah. Awalnya saya heran asramanya bercampur dengan yang sudah bekerja tetapi setelah dijelaskan kepada ibu saya oleh Ibu asrama barulah kami paham.Saat masuk saya merasakan auranya sudah tidak enak tetapi saya berusaha untuk tidak membuat adik khawatir.Setelah percakapan lama oleh ibu saya dengan ibu asrama mengenai peraturan yang harus kami taati dan disetujui akhirnya kami membawa barang-barang yang sebelumnya kami titipkan di kos sodara.
Beruntungnya saya mendapatkan kamar paling depan dekat dengan garasi mobil dan teras menerima tamu dan adik mendapatkan kamar tengah disamping kamar saya. Malam pun tiba, kami semua dipanggil oleh ibu asrama untuk perkenalan diri dan membagi kelompok serta jadwal yang bersih-bersih asrama. Setelah itu, kami semua masuk kamar masing-masing untuk melakukan aktifitas seperti biasanya. Saya masih menyusun barang-barang yang sudah dibelikan oleh ibu sewaktu pulang dari asrama. Tidak terasa waktu sudah larut malam dan saya merebahkan tubuh diatas kasur sembari membunyikan siaran radio yang dibelikan oleh ibu agar tidak sepi. Mata saya terasa berat sekali dan hampir terlelap akan tetapi saya terkaget melihat lampu sein mobil ibu asrama kedap kedip dan sontak saya bangun dari kasur lalu mengintip sedikit dari tirai jendela karena curiga ada maling yang mungkin maksa masuk mobil ibu asrama,pikir saya kala itu.Sejenak mata saya heran didalam mobil asrama tidak ada siapapun tetapi lampu masih kedap kedip dan akhirnya kaget tiba-tiba dengar ada yang mengetuk pintu depan persis disamping kamar saya yang sangat dekat dengan pintu masuk asrama.Tanpa pikir panjang saya melompat ke kasur yang dipannya saat itu terbuat dari bambu dan berbunyi "NGIK". Saya mengambil selimut dan ketakutan karena saya jelas sekali melihat dari jendela mengarah ke kanan dekat pintu masuk asrama tidak ada siapapun dan berpikir siapa yang mengetuk pintu kalau begitu. Selang beberapa menit kemudian suara ketukan itu berhenti. Keesokan harinya saat subuh saya bangun karena mendengar adik mengetuk pintu kamar untuk segera bersih-bersih asrama dan saya langsung berlari ke belakang untuk bergabung dengan kelompok.Saya meminta maaf karena telat bangun dan mereka memakluminya dan kami segera membersihkan kamar mandi dan saya mendapat bagian menyikat tembok kamar mandi dan ember2 besar serta menyikat lantai tempat biasanya mencuci baju.
Saya tidak menceritakan apapun kepada teman-teman kelompok dan adik apa yang saya alami pada hari malam pertama dikamar karena takut dikira gila atau berhayal. Setelah selesai bersih-bersih kami semua mengantri untuk mandi untuk segera sekolah ataupun bekerja agar tidak terlambat. Saya dan adik berjalan kaki ke sekolah sambil bersenda gurau dan terselipkan perkataan saya ke adik apakah dia tidur nyenyak dan jawabannya iya sangat nyenyak,dalam hati saya seandainya saja kamu tau dik kalau saya mengalami hal mistis. Malam pun tiba, teman-teman dan ibu asrama memanggil untuk berkumpul diruang televisi untuk makan bersama dan tidak terasa waktunya untuk membuang sampah keluar depan asrama di bak besar dan saya yangditunjuk ibu asrama untuk membuang sampah. Ketika berjalan menuju teras asrama dan mendekati bak sampah besar tiba-tiba saya mendengar ada yang memanggil nama saya dan saya menoleh ke kanan kiri dan belakang tetapi tidak ada satupun disekitar saya, lalu saya segera melempar sampah dan mempercepat langkah kaki saya karena rasa takut saya yang begitu besar akhirnya saya lari dan langsung masuk kamar tanpa kembali lagi keruang televisi. Saya mencoba berpikir positif mungkin teman asrama yang memanggil tetapi tetap saja tidak bisa dan akhirnya saya berdoa dan langsung tidur cepat agar tidak mengalami hal aneh lagi. Malam larut pun tiba dan saya kebelet pipis dan mencoba berusaha tidak ke kamar mandi akan tetapi rasa kebelet yang tidak tertahankan saya berlari lumayan jauh dari kamar sambil bernyanyi dan berusaha tidak menoleh ke belakang arah ruang televisi. Saat dikamar mandi saya mendengar ada yang menangis dan sontak saya segera menyelesaikannya dan keluar kamar mandi lalu berlari sekencang mungkin. Akhirnya saya tiba dikamar dan langsung melompat ke kasur dengan rasa takut yang pada akhirnya saya terlelap juga sampe esok harinya saya terbangun dengan rasa takut cemas dan berpikir bagaimana saya melewati malam berikutnya bila saya diganggu.
Saya mencoba untuk berbicara kepada adik apa yang saya alami tapi tidak berani karena takut dianggap bohong dan halusinasi dan akhirnya memutuskan untuk menyimpan semua dalam hati. Saat sorenya kembali ke asrama saya melihat ada anak asrama mengepak barang karena mau pindah dan langsung mampir masuk kekamarnya yang posisinya ditengah dan dekat dengan kamar mandi serta lebih besar kamarnya daripada kamar saya didepan. Tanpa pikir panjang saya meminta ijin kepada ibu asrama untuk pindah ke kamar kosong,mbak itu berpesan kepada saya jika mendengar sesuatu tidak perlu dijawab atau disahut dan bila mendengar suara kursi bambu tepat didepan televisi lebih baik tidak menghiraukannya. Saya kaget dan ingin bercerita apa yang sudah saya alami dua malam di asrama ini akan tetapi mbaknya buru-buru pergi jadi saya tidak bisa bercerita apapun. Dengan perasaan senang langsung saya pergi kerumah ibu asrama dan minta ijin pindah ke kamar lebih besar dan akhirnya disetujui. Adik saya menghampiri dan berkata kenapa pindah ke belakang dan saya langsung menjawab karena kamar lebih besar padahal saya hanya ingin tidak melihat hal aneh lagi didepan kamar. Malam pun tiba, saya menyusun kembali barang yang tersisa dan langsung mengubah posisi kasur untuk mengganti suasana dan akhirnya badan pun tidak bisa dikompromi kembali dan segera menghidupkan radio agar tidak sunyi. Waktu larut malam tiba sekitar pukul 4.00 wib kalau tidak salah ingat saya saat itu saya terbangun karena suara radio tiba-tiba berganti sendiri siarannya dan tidak menghiraukannya dan mencoba menutup mata. Tidak sampai berapa menit,saat mata ini hampir tertutup penuh ada sesosok perempuan rambut panjang masuk nembus pintu dan terbang menggoyangkan bunga kertas saya dan radio mati,seketika tubuh saya kaku dan keringat dingin. Saya berusaha menoleh ke arah tembok sambil baca doa dan suara dipan bambu kasur berbunyi 'NGIK' dan bulu kuduk saya merinding serta suasana diruang kamar panas sekali sampai saya keringatan. Saya berusahan tenang tapi tidak bisa karena tubuh saya mendadak kaku tidak bergerak, sosok makhluk itu mendekati saya dan memanggil nama saya dekat sekali dengan leher saya. Tanpa saya sadari ada jari yang sangat panjang dan kuku yang hitam tidak layak menyentuh leher dan rambut saya disaat seperti itu hanya doa yang bisa saya panjatkan. Mulut saya kaku dan mata saya tutup sekencang mungkin dengan mulut yang masih komat kamit berdoa. Saya mau menangis tetapi tidak bisa dan akhirnya sosok itu pergi jauh dari tubuh saya dan radio tiba-tiba hidup kembali dan sosok perempuan itu tertawa yang membuat saya rasanya ingin melompat ke pintu dan berteriak minta tolong. Tidak terasa waktu pagi pun tiba dan seketika tubuh saya bisa digerakkan dan langsung buka pintu kamar lalu berteriak sekencang mungkin lemas didepan kamar sambil menangis. Teman-teman dan ibu asrama serta adik saya langsung keluar kamar dan menghampiri serta menanyakan keadaan saya. Awalnya ibu asrama tidak percaya tapi saya menangis sekuatnya dan mengatakan kuntilanak yang menggangu saya, lalu ibu asrama memberitahukan posisi kasur saya tidak boleh menghadap pintu karena pamali dan dibelakang asrama tepatnya tembok kamar saya itu belakangnya adalah KUBURAN. Saya tersontak kaget dan berpikir berarti saya tidur bersebelahan tembok dengan kuburan. Akhirnya saya mengganti posisi kasur saya dan mencoba berpikir waras dengan menjauhkan kasur saya diujung tembok yang berdekatan dengan kuburan sebelah.
Setelah berbenah kasur saya menghampir kamar disebelah saya dan menanyakan apakah dia tidak diganggu tetapi jawabanya adalah dia sering ditindih. Lalu saya mencoba minta ijin kepada mbak itu untuk tidur bersama satu malam saja dan akhirnya dia pun setuju. Malam pun tiba kami bercerita apa yang saya alami beberapa malam tinggal diasrama dan ternyata mbak itu memberitahu dengan logat jawanya yang kental ada sosok yang menyukai manusia dari aroma tubuh manusia itu dan mengajak untuk ikut mereka. Waktu menunjukkan tengah malam pun tiba kami tidur satu kasur dan saat saya melihat mbaknya sudah tidur nyenyak saya mencoba menutup mata tetapi hal lain terjadi saya mendengar suara-suara berisik persis didepan kamar mbaknya yang mana dekat dengan ruang televisi. Saya berusaha mendengar apa yang mereka bicarakan tapi tidak paham dan ketika saya mencoba tutup mata dan mendadak suara itu hilang dan suhu dikamar sangat panas. Dengan rasa trauma saya teringat kalau suhu kamar mendadak panas dan bulu kuduk merinding itu artinya mereka datang. Saya berdoa dalam hati dan benar berapa menit kemudian saya merasa tubuh ini berat sekali dan kaku, mata saya terbuka dan berusaha meraih tangan mbak sebelah saya dan berteriak tapi tidak bisa. Mata saya berat sekali seperti rasanya mau tidur tapi tidak bisa, rasanya saat itu ingin sekali menangis. Berdoa terus menerus dalam hati minta pertolongan Tuhan. Akhirnya keesokan harinya tiba dan saya cerita kepada mbaknya dan ternyata dia melihat saya posisi tidur nyenyak, seketika itu saya kaget dan berkata kalau saya tidak tidur tapi memanggil namanya. Saya sudah lemas dan berusaha waras sembari memakai seragam sekolah. Saya cerita kepada adik agar pindah dari asrama tetapi adik berkata bahwa ibu kami sudah membayar setahun untuk tinggal diasrama. Saya berkata kepada adik agar tidur satu kamar saja beberapa bulan dikamar saya agar saya menormalkan keadaan jiwa beberapa malam ini. Adik pun setuju dan ternyata benar tidak terjadi apa-apa dikamar saya. Setiap malam saja adik tidur dikamar dan kalau hari libur pagi sampai sore kami masuk kamar masing-masing. Saya selalu diganggu saat hendak keluar teras asrama membuang sampah atau hendak ke minimarket diseberang jalan besar hanya beberapa menit jalan kaki saja. Saya selalu dipanggil nama dan berusaha tidak menyahut agar mereka tidak tahu kalau saya menyadari keberadaan mereka.



Komentar
Posting Komentar