PENGALAMAN DIAJAK TEMAN MASUK GEREJA SESAT DAN KERASUKAN SAAT TIBA DI KOS SAGAN YOGYAKARTA
Gambar Illustrasi
Sore itu cuaca sangat sejuk sekali di Yogyakarta terutama bagi saya dan adik yang ngekos di Jalan Sagan. Ini adalah kosan kesekian yang kami tempati setelah pindah dari asrama di Jalan solo yang mana masa berakhirnya genap setahun. Saya dan adik menempati lantai dua bersama sodara jauh dari Batam juga, saya menempati kamar kecil sendirian sementara adik bersama kedua sodara kami di ruangan depan yang ada depannya. Mereka bertiga tidur bersama dan saya lebih menyukai kesendirian agar bisa saat teduh yaitu membaca alkitab dan memuji Tuhan tanpa ada gangguan sama sekali. Singkat cerita, mereka melakukan aktifitas seperti biasanya dan saya menyapa penghuni kamar disamping kamar saya seorang dosen. Saya lebih menyukai di kamar sendirian daripada keluar kosan sembari baca komik dan mendengar lagu rohani. Untuk masuk ke kamar kami harus masuk kedalam ruangan yang berisikan gudang gelap dan kamar mandi. Malam hari tiba saatnya kami keluar makan di angkringan yang berada digang sempit dimana jaraknya tidak terlalu jauh dari kosan kami. Selesai makan kami kembali ke kosan dan berkumpul bersama melakukan kegiatan macam-macam.
Setelah bermain saya kembali ke kamar untuk saat teduh dan bernyanyi rohani,selang berapa menit kemudian saya mendengar suara wanita menangis tetapi tidak saya hiraukan lalu saat berusaha tidur ada sosok anak kecil laki-laki melompat diatas kasur saya sambil tertawa tetapi saya tidak mau membuka mata karena saya tidak mau mereka mengetahui bila saya bisa melihat dan mendengar suara yang tidak kasat mata. Saya hanya berkata jangan diganggu dan sambil mengucapkan doa perlahan suara itu pergi dan anak itu berhenti menghilang. Semenjak kejadian di asrama itu saya menjadi terbiasa dengan kehadiran sosok-sosok aneh dan suara yang tidak asing. Waktu pun berjalan, ada perempuan yang kebetulan mengunjungi siapa saya tidak kenal mendadak akrab dengan saya menyapa, kamipun jadi berteman dan dia suka bermain ke kosan saya. Suatu ketika, teman kenalan saya ini mengajak untuk melihat dia menari digerejanya hari sabtu karena ada acara dari gerejanya dan saya menyetujuinya. Hari itu pun tiba kami naik angkot dan turun digerejanya, saya heran karena bangunannya tidak seperti gereja pada umumnya tapi lebih mirip seperti restauran tingkat dua karena dibawahnya kosong. Kami masuk dan lantai satu gelap lalu saya berkata kepada teman kenalan saya kenapa sepi sekali dan dia menjawab dilantai dua acaranya. Singkat cerita kami tiba dilantai dua naik lift dan betapa kagetnya saya saat pintu lift terbuka langsung ruangan rame orang-orang pake baju warna putih dan mereka menyambut saya tersenyum. Saya terkesima karena mereka tampan dan cantik semuanya. Selanjutnya kawan saya minta ijin untuk ganti pakaian dan saya berdiri diam sembari melihat kanan kiri kenapa diatas panggung tidak ada tulisan apapun atau minimal foto rohani. Berapa menit kemudian acara pun dimulai naiklah pendeta dengan kaos putih dan sepatu kets dengan kulit putih dan badan berisi sambil membuka acara. Kami diminta bernyanyi bersama dan tersontak pendeta berkata untuk maju kedepan bagi yang pertama hadir agar bisa didoakan bahasa roh. Saya diam saja dan menolak untuk maju tetapi sekitar dua atau tiga orang menghampiri saya dengan sedikit memaksa dan akhirnya saya menyetujui. Saat mereka mendoakan saya dengan bahasa yang tidak saya mengerti bermacam-macam bahasa, saya pun langsung berdoa dalam hati agar tidak seperti mereka. Saat doanya selesai saya ijin ke kamar mandi dan mereka menemani saya, betapa kagetnya saya saat menoleh ke arah lift ternyata mati. Orang yang menemani saya mulai curiga dengan gelagat saya dan mengatakan arah kamar mandi bukan ke arah kanan lift. Saya berkata tidak perlu ditemani ke kamar mandi karena memang niat saya ingin kabur dari tempat ini dengan cara beralasan ke kamar mandi.
Saat berada dikamar mandi saya mengintip keluar ternyata orang itu pergi dan saya melihat ada tangga yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kamar mandi lalu bergegas lari kebawah secepat mungkin agar tidak ketahuan mereka. Saya menangis sambil berdoa agar bisa kabur dan sampailah saya diluar gedung itu, tidak tahu kenapa malam itu saya seperti orang linglung dan berjalan kaki secepat mungkin agar bisa sampai dikosan. Saya selalu mendengar suara-suara bahasa yang mereka ucapkan selama berjalan dipinggir jalan dan puji Tuhan saya masih berusaha sadar untuk menyebrang lalu masih dalam keadaan menangis. Setibanya dikosan saya naik keatas tangga sambil berlari dan menoleh kebelakang takut diikuti mereka dan akhirnya sampai ke depan pintu kamar sodara saya dan adik sambil menangis dekat pintu. Terakhir yang saya lihat ada teman sodara didalam kamar dan mereka rame sekali,setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi dikarenakan kata sodara saya dan teman mereka saya kerasukan tiba-tiba mencakar mereka ketawa seperti orang gila dan adik saya berkata kalau mereka berusaha mendoakan saya dan nyanyi lagu rohani tetapi saya mengamuk dan melemparkan barang-barang dikamar. Sodara saya bercerita kalau saya diangkut 4 laki-laki termasuk salah satunya penjaga kosan dan mereka berkata saya menggigit dan memberontak. Tubuh saya berat seperti seseorang yang memiliki berat badan gendut padahal saya sangat kurus waktu itu. Singkatnya mereka bercerita kalau memanggil taxi dan saya diletakkan dibelakang jok pengemudi dan adik serta sodara saya memegang erat tangan saya tetapi saya masih memberontak dalam mobil serta kaki saya hampir mengenai kepala supirnya dan katanya saya ketawa dan mata saya sangat merah. Adik saya berkata dia menangis melihat keadaan saya mengamuk, mereka bertiga termasuk teman sodara yang duduk dibangku depan samping supir terpaksa memegang kaki saya.
Teman sodara saya bernama A*** bercerita sudah menelepon pendeta di gereja batak tetapi lagi diluar jadi tidak bisa mendoakan, yang pada akhirnya ada gereja katolik sangat dekat dengan gereja batak disitulah saya dibawa untuk didoakan oleh pastor. Adik saya bercerita beruntung mereka mau menerima saya dan teman-teman sodara dan adik untuk masuk ke gereja katolik walaupun katanya tindakan mereka sudah benar atau tidak. Mereka bercerita bahwa ketika pastornya memberikan saya minum langsung semburkan dan memberontak. Kedua kalinya saya dipaksa minum dan saya akhirnya sadar. Teman adik saya bercerita saat proses pengusiran itu banyak sekali gangguan yaitu suara pintu atau benda jatuh, Pastornya bercerita waktu itu kalau saya diikutin bayangan hitam makhluk sangat banyak sekali menunggu diluar pintu gereja. Saat itu pastor minta saya menceritakan detailnya kenapa saya bisa kerasukan, lalu saya menceritakan semuanya. Sampai detik ini saya tidak akan pernah melupakan apa yang saya lihat sewaktu itu berada ditempat yang sangat gelap seperti hutan dan ada sosok makhluk bongkok dengan gigi panjang mengelilingi saya serta lingkaran yang tidak bisa saya keluar dari lingkaran itu. Hanya sedikit yang saya ingat dan terakhir saya melihat Tuhan dan bunda maria memberikan tangannya kepada saya sambil tersenyum lalu saya memberikan tangan saya dan tiba-tiba terbangun digereja dikelilingi adik, sodara dan teman-temannya. Badan saya sengat lemas sekali dan lelah seperti orang yang habis lari maraton dan berantam. Pastor berkata wangi saya sangat harum dan disukai oleh makhluk tidak kasat mata karena saya suka melamun. Singkatnya, mereka semua memapah saya karena kaki tidak sanggup lagi berdiri karena lemas dan lelah. Saat tiba di kos saya ditunggu oleh penjaga kos dan teman-teman kos yang penasaran dengan yang terjadi. Saya meminta maaf kepada penjaga kos karena sudah merepotkan dan membuat semua orang panik, lalu saya meminta maaf kepada anak laki-laki yang sudah cakar dan gigit apalagi adik yang saya jambak rambutnya mengamuk. Saya bisa melihat ekspresi anak kos dengan rasa takut,cemas, dan kesal. Setiba dikamar sodara saya, kamipun tidur bersama dan esok harinya teman-teman adik saya dan sodara mencari alamat kos yang mengajak saya ke gereja tersebut. Ternyata saat mereka ke gedung restoran itu sudah tutup tidak lagi beroperasi dan dengar kabar bahwa pendetanya menghamili jemaat disana agar bisa masuk surga. Saya memberanikan diri ke gedung tersebut dan benar adanya salibnya terbalik ke arah kanan kepalanya. Teman yang mengajak saya telah ditemukan kamar kosnya ternyata dia sudah duluan kabur darisana dan teman-teman semua mengamuk karena tidak bisa menemukan anak perempuan itu. Orang tua saya marah besar kepada saya karena sangat mudah sekali percaya sama seseorang dan untungnya saya masih bisa kabur kalau tidak bisa dijadikan tumbal oleh pendeta tersebut.



Komentar
Posting Komentar